Laporan Proksimat Analisis Obat

LAPORAN AT I
(Integrated Analysis I Report)

Objek Praktikum : Analisis Obat

·         Abdul Aqil Julianto ( 166373 )
·         Egi F Yunasz ( 166434 )
·         Joya Patricia Ambri ( 166491 )

 
 



Nama               :                                           



Kelas               :  XII.9                                        
Kelompok       : Y.5                                                                                                                           
Tanggal           : 6 Februari 2019                                                                                           


I. Tujuan (5)  
·         Untuk mengetahui kadar vitamin c, asetosal, antalgin, dan povidone iodine
·         Untuk mengetahui prinsip kerja dan metoda yang digunakan dalam analisis obat-obatan
·         Mengetahui kualitas dari obat yang dianalisis
·         Mengetahui cara kerja dan reaksi yang terjadi pada analisi obat-obatan


2. Teori Dasar (25)
      
§  OBAT
    
Pengertian obat adalah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam dan luar tubuh guna mencegah, meringankan, dan menyembuhkan penyakit. Sedangkan menurut undang-undang,  pengertian obat adalah suatu bahan atau campuran bahan untuk dipergunakan dalam menentukan diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan termasuk untuk memperelok tubuh atau bagian tubuh manusia.
Selain pengertian obat secara umum di atas, ada juga pengertian obat secara khusus. Berikut ini beberapa pengertian obat secara khusus:
·         Obat baru: Obat baru adalah obat yang berisi zat (berkhasiat/tidak berkhasiat), seperti pembantu, pelarut, pengisi, lapisan atau komponen lain yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat dan kegunaannya.
·         Obat esensial: Obat esensial adalah obat yang paling banyak dibutuhkan untuk layanan kesehatan masyarakat dan tercantum dalam daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI.
·         Obat generik: Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam FI untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.
·         Obat jadi: Obat jadi adalah obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk salep, cairan, supositoria, kapsul, pil, tablet, serbuk atau bentuk lainnya yang secara teknis sesuai dengan FI atau buku resmi lain yang ditetapkan pemerintah. 
·         Obat paten: Obat paten adalah obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama pembuat yang telah diberi kuasa dan obat itu dijual dalam kemasan asli dari perusahaan yang memproduksinya.
·         Obat asli: Obat asli adalah obat yang diperoleh langsung dari bahan-bahan alamiah, diolah secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional.
·         Obat tradisional: Obat tradisional adalah obat yang didapat dari bahan alam, diolah secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional.
Obat dapat digolongkan berdasarkan beberapa kriteria penggolongan. Kriteria penggolongan obat yaitu berdasarkan proses fisiologis dan biokimia dalam tubuh, bentuk sediaan obat, sumber obat, undang-undang, cara kerja obat, cara penggunaan obat, serta kegunaan obat. Menurut proses fisiologis dan biokimia dalam tubuh, obat digolongkan menjadi:
·         Obat diagnostik: Obat diagnostik adalah obat yang membantu dalam mendiagnosis (mengenali penyakit), misalnya barium sulfat untuk membantu diagnosis pada saluran lambung-usus, serta natriummiopanoat dan asam iod organik lainnya untuk membantu diagnosis pada saluran empedu.
·         Obat kemoterapeutik: Obat kemoterapeutik adalah obat yang dapat membunuh parasit dan kuman di dalam tubuh inang. Obat ini hendaknya memiliki kegiatan farmakodinamik yang sekecil-kecilnya terhadap organisme inang dan berkhasiat untuk melawan sebanyak mungkin parasit (cacing protozoa) dan mikroorganisme (bakteri, virus). Obat-obat neoplasma (onkolitika, sitostika, atau obat kanker) juga dianggap termasuk golongan ini.
·         Obat farmakodinamik: Obat farmakodinamik adalah obat yang bekerja terhadap inang dengan jalan mempercepat atau memperlambat proses fisiologis atau fungsi biokimia dalam tubuh contohnya hormon, diuretik, hipnotik, dan obat otonom.
Penggolongan obat berdasarkan bentuk sediaan obat dikelompokkan menjadi :
·         Bentuk gas;  contohnya, inhalasi, spraym aerosol.
·         Bentuk cair atau larutan;  contohnya, lotio, dauche, infus intravena, injeksi, epithema, clysma, gargarisma, obat tetes, eliksir, sirop dan potio.
·         Bentuk setengah padat;  misalnya salep mata (occulenta), gel, cerata, pasta, krim, salep (unguetum).
·         Bentuk padat;  contohnya, supositoria, kapsul, pil, tablet, dan serbuk.
Penggolongan obat berdasarkan sumbernya, dikelompokkan menjadi :
·         Mikroba dan jamur/fungi;  misalnya, antibiotik penisilin.
·         Sintesis (tiruan);  contohnya, vitamin C dan kamper sintesis.
·         Mineral (pertambangan);  contohnya, sulfur, vaselin, parafin, garam dapur, iodkali.
·         Hewan (fauna);  contohnya, cera, adeps lanae, dan minyak ikan.
·         Tumbuhan (flora);  contohnya, minyak jarak, kina, dan digitalis. 
Penggolongan obat menurut undang-undang dikelompokkan menjadi :
·         Obat bebas                  : Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas dan tidak membahayakan si pemakai dalam batas dosis yang dianjurkan; diberi tanda lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam.
·         Obat bebas terbatas     : Obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam bungkus aslinya dari produsen atau pabrik obat itu, kemudian diberi tanda lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam serta diberi tanda peringatan (P No.1 sampai P No.6).
·         Obat keras                   : Obat keras adalah semua obat yang memiliki takaran dosis minimum (DM), diberi tanda khusus lingkaran bulat merah garis tepi hitam dan huruf K menyentuh garis tepinya, semua obat baru kecuali ada ketetapan pemerintah bahwa obat itu tidak membahayakan, dan semua sediaan parenteral/injeksi/infus intravena.
·         Psikotropika                : Psikotropika adalah obat yang memengaruhi proses mental, meransang atau menenangkan, mengubah pikiran/perasaan/kelakuan seseorang; contohnya golongan barbital/luminal, diazepam, dan ekstasi.
·         Narkotik                      : Narkotik adalah obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan IPTEK serta dapat menimbulkan ketergantungan dan ketagihan/adiksi yang sanga merugikan individu apabila digunakan tanpa pembatasan dan pengawasan dokter; contohnya kodein, metadon, petidin, morfin, dan opium.
Penggolongan obat berdasarkan cara kerjanya dalam tubuh dikelompokkan menjadi:
·         Sistemik          : Obat yang didistribusikan ke seluruh tubuh; contohnya obat analgetik.
·         Lokal               : Obat yang bekerja pada jaringan setempat, seperti pemakaian topikal.
Penggolongan obat menurut cara penggunaannya, obat digolongkan menjadi:
·         Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar) melalui implantasi, injeksi, membran mukosa, rektal, vaginal, nasal, opthalmic, aurical, collutio/gargarisma/gargle, diberi tiket biru.
·         Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam) melalui oral, diberi tiket putih.
Parameter yang digunakan dalam menganalisis obat :
A.Vitamin C
B. Asetosal (asetil salisilat)
C.Antlgin
D.Povidone iodine

A.Vitamin C
Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit.
Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular. Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam. Meskipun jeruk dikenal sebagai buah penghasil vitamin C terbanyak, sebenarnya salah besar, karena lemon memiliki kandungan vitamin C lebih banyak 47% daripada jeruk.
Peranan vitamin C dalam tubuh
Vitamin C diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, yaitu sejenis protein yang menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan patah tulang, memar, pendarahan kecil, dan luka ringan.
Vitamin c juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi dan mempertajam kesadaran. Sebagai antioksidan, vitamin c mampu menetralkan radikal bebas di seluruh tubuh. Melalui pengaruh pencahar, vitamin ini juga dapat meningkatkan pembuangan feses atau kotoran. Vitamin C juga mampu menangkal nitrit penyebab kanker. Penelitian di Institut Teknologi Massachusetts menemukan, pembentukan nitrosamin (hasil akhir pencernaan bahan makanan yang mengandung nitrit) dalam tubuh sejumlah mahasiswa yang diberi vitamin C berkurang sampai 81%.
B.Asetosal ( asetil salisilat )
Asetosal / aspirin adalah salah satu obat tertua di dunia. Obat ini pertama kali tercatat digunakan oleh bangsa Sumeria dan Mesir dalam pengobatan sehari-hari, terutama untuk mengobati rasa sakit. Obat aspirin pada zaman dahulu terbuat dari tanaman daun willow. Hippocrates juga mengembangkan aspirin melalui ekstrak tanaman ini. Kemudian, banyak penelitian dikembangkan untuk mencari berbagai khasiat dari aspirin beserta dosis yang digunakan. Faktanya, aspirin kini menjadi obat yang mampu mengatasi banyak masalah kesehatan.

Kandungan obat aspirin yang multifungsi :
Obat aspirin atau dalam dunia farmasi disebut asam asetil salisilat, adalah bentuk olahan senyawa salisin yang terdapat dalam banyak tumbuhan. Senyawa ini memiliki beberapa fungsi, sesuai dosisnya. Pada dasarnya, aspirin bekerja menghambat enzim yang memproduksi dan mengatur kerja prostaglandin, sebuah senyawa dalam tubuh yang diproduksi saat terjadi peradangan. Jadi, semua hal yang melibatkan prostaglandin dapat dicegah oleh aspirin.
Beberapa efek yang dihasilkan aspirin antara lain :
1.         Efek antipiretik → berfungsi menurunkan suhu tubuh saat demam.
2.         Efek anti-inflamasi → berfungsi meredakan peradangan.
3.         Efek analgetik → peredam rasa nyeri.
4.         Efek anti-platelet → mencegah sel darah (trombosit) menempel pada dinding pembuluh darah, sehingga pembekuan darah dapat dihambat..

Manfaat aspirin untuk kesehatan :

1.        Mengatasi demam

Ketika Anda mengalami demam dan gejala penyerta seperti badan ngilu, tablet aspirin dosis tunggal dapat membuat Anda merasa jauh lebih baik. Senyawa anti-piretik dalam obat aspirin dapat mengirimkan sinyal ke otak untuk mengatur suhu tubuh, sehingga demam dapat diatasi.

2.        Obat sakit kepala mujarab

Prostaglandin adalah senyawa yang bertugas mengirim sinyal sakit ke otak, sedangkan aspirin bekerja memblok senyawa ini, sehingga bermanfaat untuk pengobatan sakit kepala. Nyeri kepala sebelah atau migrain pun dapat diatasi oleh aspirin dalam waktu yang relatif cepat.

3.        Baik untuk kesehatan kulit

Tidak hanya bagi kesehatan organ dalam, aspirin juga bermanfaat sebagai obat luar akibat efek anti-peradangan yang dimilikinya. Aspirin dapat menghilangkan jerawat dan bekas gigitan serangga pada kulit. Untuk kebutuhan ini, penggunaan aspirin bukan diminum, melainkan dibuat bentuk adonan/pasta.
Pasta aspirin dapat dibuat dari dua butir aspirin yang dihancurkan, ditambah beberapa tetes air. Cukup oleskan pada jerawat atau bekas gigitan serangga dan biarkan mengering. Setelah itu, bilas dengan air. Hati-hati untuk orang yang sensitif aspirin, karena pasta aspirin bukan menghilangkan noda di kulit, tapi malah justru menimbulkan iritasi.

4.        Menurunkan angka kematian akibat kanker dan perlemakan hati

Liver dapat mengalami perlemakan pada orang-orang yang mengonsumsi alkohol dalam jangka panjang. Aspirin dapat menghambat proses perlemakan hati ini, sehingga tidak terjerumus pada komplikasi yang lebih lanjut yaitu kanker hati. Beberapa penelitian juga dikembangkan untuk mencari manfaat lain dari aspirin. Hasilnya, sebuah penelitian dari John Radcliffe Hospital, Oxford, menunjukkan bahwa obat aspirin dapat mengurangi kematian akibat beberapa jenis kanker.
Angka kematian turun 34% untuk semua kanker dan 54% bagi kanker pencernaan. Setelah 20 tahun, risiko kematian kanker 20% lebih rendah pada kelompok yang diberi aspirin dibandingkan kelompok tanpa aspirin. Namun, penelitian lain masih berlangsung dan diharapkan dapat menyempurnakan hasil tersebut.

5.        Sebagai pengencer darah

Efek anti penggumpalan yang dimiliki aspirin membuat obat ini dapat mengencerkan darah. Ada beberapa penyakit yang dapat dicegah, antara lain penyakit jantung koroner dan penyumbatan vena akibat duduk terlalu lama.
Walaupun aspirin dapat membantu mencegah serangan jantung, tetap saja pasien tidak boleh meminum obat aspirin setiap hari tanpa anjuran dokter. Biasanya dokter akan memberikan aspirin sebagai pengencer darah pada :
·            Pasien yang sudah pernah mengalami serangan jantung atau stroke
·            Pasien dengan cincin/stent jantung, atau pernah menjalani operasi bypass
·            Pasien yang berisiko mengalami serangan jantung dan mengalami diabetes

Efek samping aspirin yang mungkin terjadi :

1.      Perdarahan organ-organ dalam

Sifatnya yang mengencerkan darah dapat menyebabkan perdarahan di berbagai tempat dalam tubuh bila dikonsumsi dalam jumlah tak terbatas dan melebihi dosis. Tempat yang paling sering mengalami perdarahan adalah lambung. Gejala yang timbul akibat perdarahan akibat aspirin antara lain nyeri perut hebat, feses yang menghitam, dan urin yang kemerahan.

2.      Aspirin berbahaya untuk anak-anak

Aspirin dapat menyebabkan timbulnya gangguan serius yang disebut dengan Sindroma Reye. Pada sindroma ini, terjadi penimbunan lemak di otak, hati, dan organ tubuh lainnya pada anak, terutama jika obat aspirin diberikan saat anak mengalami cacar air atau flu.

3.      Aspirin berbahaya untuk ibu hamil

Aspirin tidak dianjurkan diminum oleh ibu hamil. Obat ini berbahaya bagi janin karena menyebabkan banyak kelainan bawaan, seperti penyakit jantung bawaan dan mengurangi berat badan lahir. Hal ini karena aspirin mampu menembus lapisan plasenta dan mempengaruhi tumbuh kembang janin.

Rumus bangun asetosal :


C.Antalgin
Antalgin atau Levorphanoladalah salah satu obat pengurang rasa sakit. Antalgin juga dikenal sebagai metampiron atau pun dipiron. Antalgin berupa sebuk hablur berwarna putih atau putih kekuningan. Antalgin termasuk pada derivat metasulfonat dari amidopirin yang mudah larut dalam air dan cepat diserap kedalam tubuh. Ia bekerja secara sentral pada otak untuk menghlangkan nyeri, menurunkan demam, dan menyembuhkan rheumatik. Antalgin memengaruhi hipotalamus dalam menurunkan sensitifitas reseptor rasa sakit dan termostat yang mengatur suhu tubuh. Obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang, misalnya sakit kepala. Obat ini juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi. Efek analgetiknya lebih lemah dari efek analgetik opiat. Obat ini juga tidak menimbulkan ketagihan (adiksi) dan efek samping sentral yang merugikan. Pada pemakaian yang teratur dalam jangka waktu yang panjang, antalgin dapat menimbulkan kasus agranulositosis fatal. Untuk mendeteksi hal tersebut, pengujian darah secara teratur dianjurkan. Jika gejala tersebut timbul, penggunaan obat ini harus segera dihentikan.

Rumus  bangun :

 D.Povidone Iodine
Povidone iodine adalah obat luar yang berfungsi sebagai antiseptik, yang umumnya digunakan untuk membersihkan serta membunuh bakteri, jamur, dan virus pada daerah kulit, termasuk kulit yang yang terdapat luka, misalnya karena cedera atau tersayat  pisau. Sebagai antiseptik kulit, povidone iodine tersedia dalam bentuk cairan, semprot, salep, atau cotton bud (swab). Selain untuk kulit, povidone iodine tersedia dalam bentuk cairan pembersih vagina dan obat kumur, yang juga berfungsi sebagai antiseptik.
Povidone iodine bekerja dengan cara merusak sel kuman dan membuat kuman menjadi tidak aktif.


Prinsip kerja
*      Vitamin C
·      Vitamin c secara alkalimetri: sampel dilarutkan dengan aquades dengan penambahan indikator PP, lalu dititrasi dengan NaOH
·      Vitamin C secara iodimetri: sampel dilarutkan dengan aquades bebas CO2, lalu dititrasi dengan I2 dan indikator amilum
*        Asetosal
·      Asetosal secara tidak langsung: sampel direaksikan dengan NaOH kemudian kelebihan NaOH dititrasi dengan larutan H2SO4 dengan indikator PP, titrasi tidak langsung
·      Asetosa langsung: sampel dilarutkan dengan ethanol netral, kemudian dititrasi dengan larutan standar NaOH dan indikator PP
*      Antalgin
·  Antalgin dalam suasana netral: sampel dilarutkan dengan aquades kemudian dititrasi dengan larutan standar I2
·  Antalgin dalam suasana asam: sampel dilarutkan dengan aquades kemudian ditambahkan asam dan indikator amilum, lalu dititrasi dengan I2
*      Povidone iodine
·      Ion iodide sebagai pereduksi diubah menjadi iodium yangnantinya dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3

3. Alat dan Bahan
3.1 Alat (5)
3.1.1. Alat Gelas                                                         
·       Erlenmeyer 250ml
·       Gelas ukur 100ml
·       Pipet takar 10ml
·       Buret 50ml
·       Pipet gondok 10ml, 25ml
·       Labu ukur 500ml, 100ml
·       Pipet tetes
·       Gelas piala 250ml
·       Pendingin tegak
·       Batang pengaduk

  3.1.2. Alat non Gelas 
·      Lumpang dan alu
·      Standar klem
·      Neraca analitik
·      Kompor gas
·      Penangas air
·      Botol Semprot






3.2 Bahan (5)
Jenis Sampel      : Padatan


  • Obat
  • Aquadest
  • H2SO4 4N
  • Indikator Amilum
  • I2 0,1 N
  • Indikator PP
  • NaOH 0,1 N
  • NaOH 0,5 N
  • H2SO4 0,5 N
  • Ethanol Netral
  • HCl 0,02 N




4.    Prosedur Kerja

      I.            CARA KERJA
4.1  Vitamin C (Iodimetri)
·         Sampel vitamin C digerus hingga halus.
·         Ditimbang sampel tersebut sebanyak 100mg ( 0,1000 gr ) dengan teliti dipindahkan kedalam erlenmeyer.
·         Ditambahkan 25mL air suling / aquadest bebas CO2 (telah didihkan hingga tidak ada gelembung udara).
·         Ditambah pula H2SO4  4 N sebanyak 6mL dan 1-2 mL indicator amilum.
·         Titrasi dengan I2 0,1 N hingga TAT ( muncul warna biru ).
4.2  Vitamin C (secara Alkalimetri)
·         Sampel Vitamin C digerus hungga halus.
·         Ditimbang sampel tersebut sebanyak 600 mg ( 0,6000 gr ) dengan teliti dipindahkan kedalam erlenmeyer.
·         Ditambahkan 25 mL air suling dan 2 – 3 tetes indikator phenolptalein.
·         Titrasi dengan NaOH 0,1 N hingga TAT ( muncul warna merah muda ).

4.3  Asetosal Secara Tidak Langsung
·         Ditimbang sampel aspirin sebanyak 1,5 gr dan dipindahkan kedalam erlenmeyer.
·         Ditambahkan 50 mL larutan NaOH 0,5 N.
·         Dipanaskan selama 10 menit.
·         Ditambahkan 2 – 3 tetes indicator PP.
·         Dititrasi dengan larutan H2SO4 0,5 N hingga TAT berwarna pink seulas.
·         Lakukan blanko.

4.4  Asetosal Secara Langsung
·         600 mg ( 0,6000 gr ) ditimbang secara teliti.
·         Ditambahkan 10 mL ethanol netral dan 2 – 3 tetes indicator PP.
·         Dititrasi dengan NaOH 0,1 N hinnga TAT ( pink seulas ).

4.5  Antalgin Dalam Suasana Netral
·         Ditimbang 0,4000 gr antalgi secara teliti dan dipundahkan kedalam erlenmeyer.
·         ditambahkan  6 mL aquadest tambahkan indikator amilum.
·         Dititrasi dengan I2 0,1 N hingga TAT ( kuning ).

4.6  Antalgin Dalam Suasana Asam
·         Ditimbang sampel antangin sebanyak 0,2000 gr dan dipindahkan  kedalam erlenmeyer.
·         Ditambahkan 5 mL aquadest.
·         Ditambahkan 5 mL HCl 0,02 N dan ditambahkan indikator amilum 1 – 2 mL.
·         Dititrasi  dengan I2 0,1 N hingga TAT ( ungu kebiruan ).

4.7  Penentuan kadar Povidone Iodine (Iodine)
·         Dipipet 5 ml sampel dan masukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml.
·         Tambahkan 50 ml aquadest.
·         Titrasi dengan Natrium Thiosulfat 0.1 N sampai warna kuning.
·         Tambahkan 1 ml indikator amilum.
·         Lanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang.
·         Catat volume Natrium thiosulfat yang terpakai.

 II.            PERHITUNGAN
1.     a. Kadar Vitamin C  secara Iodimetri ( Mr = 176,13 g/mol  ; RM = C6H8O6 )

Kadar Vitamin C = 


1 mL larutan I2  0,1 N setara dengan 8,806 Vitamin C


b. Kadar Vitamin C secara alkalimetri

Kadar Vitamin C =


1 mL larutan NaOH setara dengan 17,613 mg Vitamin C

2.     a. Asetosal Secara Langsung ( Mr = 180,16 g/mol  ; Mr = C9H8O4 )

Kadar Asetosal = 




1 mL Larutan NaOH 0,5 N setara dengan 45,04 mg asetosal

b. Asetosal Secagra Tidak  Langsun


Kadar Asetosal =



3.     a. Antalgin Dalam Suasana Netral (Mr = 351,37 g / mol  ; RM = C13H16N3NaO4S.H2O)
          (Mr = 333,37 g / mol ; RM = C13H16N3NaO4S )

Kadar Antalgin  =


            1 mL I2 0,1 N setara dengan : 17,57 mg antalgin
                                                                 16,67 mg antalgin anhidrat

b. Antalgin Dalam Suasansa Asam


 Kadar Antalgin  =


Ctt : Perhitungan sama dengan diatas

4.     Povidone Iodine (Iodine)

Povidone iodine  =

CTT : Untuk keseluruhan obat ditentukan kadar dalam mg /tablet dengan cara :

Kadar obat (mg/tablet ) =  Kadar dalam % x berat rata-rata tablet
                                                                     100


5. Pengamatan (15)
A.      VITAMIN C
1.      Secara iodimetri
a)    Sampel + H2O bebas CO→  Larutan kuning
b)   Sampel + H2O bebas CO+ H2SO4 4 N  →  Larutan kuning
c)    Sampel + H2O bebas CO+ H2SO4 4 N + amilum 1%  →  Larutan kuning
d)   Sampel + H2O bebas CO+ H2SO4 4 N + amilum ≈ thio 0,1N → TAT(warna biru)
2.      Secara alkalimetri
a)    Sampel → bubuk kuning
b)   Sampel + H2O → larutan kuning
c)    Sampel + H2O + indikator pp  → larutan kuning (sedikit orange)
d)   Sampel + H2O + indikator pp ≈ NaOH 0,1 N  → TAT (pink seluas)
B.       ASETOAL
1.      Secara tidak langsung
a)    Sampel → bubuk  putih
b)   Sampel → NaOH 0,5 N → larutan putih keruh
c)    Sampel → NaOH 0,5 N (10menit↑) → bening,ada endapan melayang
d)   Sampel → NaOH 0,5 N (10menit↑) + ind PP → pink
e)    Sampel → NaOH 0,5 N (10menit↑) + ind PP ≈ H2SO4 0,5 N  → TAT (pink seluas)
2.      Secara langsung
a)    Sampel + etanol netral → larutan bening dengan endapan putih
b)   Sampel + etanol netral + ind.pp → larutan bening
c)    Sampel + etanol netral + ind.pp ≈ NaOH 0,1 N  → TAT (pink seluas)

C.     ANTALGIN
1.      Suasana netral
a)    Sampel → bubuk putih
b)   Sampel +H2O → larutan putih
c)    Sampel +H2O + amilum → larutan putih
d)   Sampel +H2O + amilum ≈ I2 →TAT (kuning)
2.      Suasana asam
a)    Sampel → bubuk putih
b)   Sampel +H2O → larutan putih
c)    Sampel +H2O + HCL0,02N → larutan keruh kehijauan
d)   Sampel +H2O + HCL0,02N + ind.amilum → larutan putih
e)    Sampel +H2O + HCL0,02N + ind.amilum ≈ I2 0,1 N → TAT (arna ungu kebiruan).
D.      POVIDONE IODINE
Sampel -> Cairan Merah (Betadine)
Sampel + H2O -> Cairan Merah Bata
Sampel + H2O + Na Thio -> Kuning Gading (F1)
F1 + Indikator Amilum -> Endapan Biru
F1 + Indikator Amilum + Na Thio -> Hilang warna biru (TAT)




















6. REAKSI   (15)
A.     



B.    Asetosal  


                   






C..ANTALGIN
     

POVIDONE IODINE



D.    STANDARDISASI
1.         NaOH dengan Asam Oksalat

2.         H2SO4 dengan NaOH

3.         Thio dengan I2









7. Perhitungan (20)
7.1  Data penitaran sampel untuk Vitamin C
Berat
Sampel
(gr)
Volume Pemakaian
I2 (mL)
Scr Iodimetri
Berat
Sampel
(gr)
Volume Pemakaian
NaOH (mL)
Scr Alkalimetri
0,1007
1,1
0,6005
2,2
0,1007
0,9
0,6002
2,0

72 Data penitaran blangko dan sampel untuk Asetosal.
Berat
Sampel
(gr)
Volume Pemakaian
NaOH (mL)
Scr tdk langsung
Berat
Sampel
(gr)
Volume Pemakaian
NaOH (mL)
Scr langsung
1,5000
1,0
0,6000
15,2
1,5000
1,1
0,6000
15,1

7.3 Data penitaran blangko dan sampel untuk Antalgin
Berat
Sampel
(gr)
Volume Pemakaian
I2 (mL)
Suasana netral
Berat
Sampel
(gr)
Volume Pemakaian
 I2  (mL)
Suasana asam
0,4002
0,50
0,2000
3,8
0,4000
0,50
0,2002
3,7

7.4. Data Penitaran Standarisasi Thiosulfat dengan Kromat dan I2
Berat K2Cr2O7
(gr)
Volume Penitaran Thio (mL)
Volume Penitaran I2 (mL)

11,0
8,5
11,0
8,5

7.5 Data Penitaran Standarisasi Asam Oksalat dengan NaOH dan H2SO4
Berat H2C2O4
(gr)
Volume Penitaran NaOH (mL)
Volume Penitaran  H2SO4 (mL)

11,2
2,20
11,3
2,20









8. Perhitungan ( 20 )

·        Standardisasi







Asetosal




·        Povidone Iodine


Vitamin C




  • Antalgin



9. Pembahasan  (5)

1.        VITAMIN C
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi vitamin c iodimetri, diantaranya :
·         Oksigen eror, terjadi jika dalam larutan asam , maka oksigen dari udara akan mengoksidasi iodide menjadi ion ( kesalahan makin besar dengan meningkatnta asam )

·         Larutan kanji yang sudah rusak akan memberikan warna violet yang sulit hilang warnanya , sehingga akan mengganggu peniteran. -

·         pemberian kanji terlalu awal akan menyebabkan iod menguraikan amilum dan hasil peruraian mengganggu perubahan warna pada titik akhir -

·         Larutan thiosulfat dalam suasana yang sangat asam dapat meguraikan larutan thiosulfat menjadi belerang, pada suasana basa ( pH > 9 ) thiosulfat menjadi ion sulfat
2.        ASETOSAL
Pada praktikum kali ini adalah penentuan kadar aspirin dalam tablet menggunakan metode titrasi asam basa alkalimetri dengan larutan standar basa (NaOH) untuk menetukan asam (Aspirin). Sebelum digunakan untuk menentukan kadar Aspirin, NaOH terlebih dahulu di standarisasi dengan larutan baku primer asam oksalat dengan metode standarisasi Asidimetri. Indicator dari standarisasi ini menggunakan phenolftalein (pp) dengan trayek pH (8,3-10). Penggunaan indicator ini adalah agar Titik Akhir Titrasi yang didapat mendekati Titik equivalen dari standarisasi ini yang cenderung bersifat basa. Hal ini terjadi karena reaksi antara basa kuat dan asam lemah titik equivalennya akan cenderung bersifat basa dengan pH >7. Oleh karena itu digunakan indicator phenolftalein yang memiliki trayek pH besar (8,3-10) untuk mendapatkan titik akhir titrasi yang mendekati titik equivalennya
3.      Obat sebagian besar bila dilarutkan mempunyai warna sehingga penitaran saat TAT perubahan warnanya  tidak  jelas. Oleh karna itu TAT dilihat bila adanya perubahan warna awalnya saja.
4.      Hasil yang didapat pada povidone iodine sangat tidak  akurat dikarnakan penambahan iodine tidak teliti.


10. Kesimpulan (5)


Dari praktikum yang telah dilakukan, didapat hasil sbb:
*    Vitamin C
·         Iodimetri : 84,18%  & 84,18%  SD : 0,  RSD : 0%
·         Alkalimetri : : 2,86%  & 2,60%  SD : 0,1 ,  RSD : 3,6%

*    Asetosal
·        Langsung : 40,53%  & 40,26%  SD : 0,1 ,  RSD : 0,2%
·        Tidak langsung : 2,32%  & 2,05%  SD : 0,1,  RSD : 4,5%
*    Antalgin
·        Netral : 23,46%  & 23,47%  SD : 0,04  RSD : 0,01%
·        Asam : 93,93%  & 93,93%  SD : 0,  RSD : 0%
*    Povidone Iodine
·        Hasil : : 1384,22%  & 1264,87%  SD :59,72,  RSD :4,5 %



11. Daftar Pustaka  (5)
·         Farmacope indonesia, cetakan ke-IV
·         Widdyana, Nuraini.1998.kimia pangan dan gizi
·         Winarno.f-6.1989.kimia pangan dan gizi
·         Warmadja,slamet.1989.Analisa bahan makanan dan pertanian. Penerbit : liberty.yogyakarta
·         Undervcod.1999.Analisa kimia kuantitatif,jakarta:erlangga














                                                                                                Padang ,06-feb-  2019
Tanda tangan pemeriksa                                 Tanda tangan siswa


( Yeni Hermayanti & Safdi Norsyah)             (Kelompok Y.5)                                                                              

              

Komentar